Pinjaman Syariah untuk Melunasi Hutang Riba, Apakah Ini Solusi yang Dibenarkan?
Pinjaman Syariah untuk Melunasi Hutang Riba Apakah Ini Solusi yang Dibenarkan?
Jika Anda sampai mencari pinjaman syariah untuk melunasi hutang riba, biasanya posisinya sudah tidak nyaman. Bunga berjalan, cicilan menekan, dan ada rasa bersalah karena sadar hutang itu tidak sejalan dengan prinsip syariah.
Pertanyaan utamanya bukan sekadar “ada atau tidak”, tapi: apakah langkah ini benar secara syariah, masuk akal secara finansial, dan tidak menambah masalah baru.
Artikel ini membahas satu hal itu saja. Tanpa menghakimi, tanpa menjual solusi instan, dan tanpa janji manis.
Apakah Melunasi Hutang Riba dengan Pinjaman Syariah Diperbolehkan?
Dalam pandangan mayoritas ulama, melunasi hutang riba adalah kewajiban. Riba tidak boleh dibiarkan berjalan jika ada jalan keluar yang lebih baik.
Namun, pinjaman syariah bukan alat sulap. Ia hanya dibenarkan jika akadnya jelas, tidak mengandung riba terselubung, dan tujuannya memang untuk keluar dari transaksi haram, bukan memindahkannya.
Artinya, secara prinsip, menggunakan pembiayaan syariah untuk menutup hutang riba bisa dibolehkan, selama struktur pembiayaannya sah dan tidak memberatkan secara zalim.
Risiko salah paham di sini besar. Banyak orang mengira semua produk berlabel syariah otomatis halal, padahal detail akad tetap menentukan.
Skema Syariah yang Biasanya Digunakan untuk Melunasi Hutang
Dalam praktik, lembaga syariah jarang menyebut produknya “pinjaman”. Yang digunakan adalah skema pembiayaan, seperti murabahah, qardh, atau multijasa.
Untuk kasus melunasi hutang, yang sering dipakai adalah murabahah atau pembiayaan multiguna syariah. Lembaga membiayai kebutuhan tertentu, lalu Anda mencicil dengan margin tetap yang disepakati di awal.
Margin ini bukan bunga berjalan. Angkanya tetap, tidak berubah walau terlambat, dan tidak dihitung berdasarkan waktu seperti riba.
Namun, jika margin disamarkan tapi praktiknya menyerupai bunga, di situlah masalah muncul. Karena itu, memahami akad jauh lebih penting daripada sekadar nama produk.
Berapa Kisaran Biaya dan Apa Bedanya dengan Hutang Riba?
Ini bagian yang paling menentukan keputusan. Pembiayaan syariah bukan berarti gratis biaya.
Untuk pembiayaan skala kecil hingga menengah, margin syariah biasanya setara dengan 8–15% per tahun secara flat, tergantung lembaga dan tenor. Angka ini terlihat mirip kredit bank, tapi mekanismenya berbeda.
Bandingkan dengan hutang riba seperti kartu kredit atau pinjaman online konvensional, yang bisa efektif di atas 20–30% per tahun, bahkan lebih jika ada denda.
Jika hutang riba Anda terus berbunga dan tidak menurun, berpindah ke skema syariah yang margin-nya tetap sering kali lebih terkendali, meski total cicilan tetap terasa berat.
Kapan Langkah Ini Masuk Akal, dan Kapan Sebaiknya Tidak?
Langkah ini masuk akal jika hutang riba Anda aktif, bunganya berjalan, dan Anda masih punya kemampuan cicil yang stabil.
Dengan catatan, pembiayaan syariah tersebut benar-benar menggantikan hutang lama, bukan ditumpuk di atasnya.
Namun, jika masalah utamanya adalah pendapatan tidak cukup atau pengeluaran tidak terkendali, mengambil pembiayaan baru—meski syariah—hanya menunda masalah.
Risiko terbesarnya adalah beban ganda: hutang lama belum lunas sepenuhnya, cicilan baru sudah berjalan, dan tekanan finansial makin berat.
Kesalahan Umum Saat Mencari Pinjaman Syariah untuk Menutup Riba
Kesalahan paling sering adalah mengabaikan akad. Banyak orang hanya bertanya “syariah atau tidak”, tanpa membaca struktur perjanjiannya.
Kesalahan kedua adalah tergesa-gesa. Karena ingin segera keluar dari riba, orang menerima skema apa pun tanpa menghitung ulang kemampuan bayar.
Kesalahan ketiga adalah percaya bahwa pembiayaan syariah pasti lebih ringan. Dalam beberapa kasus, cicilannya justru lebih besar karena tenor lebih pendek.
Kesalahan ini bukan soal niat, tapi kurangnya pemahaman sebelum mengambil keputusan.
Apa Alternatif Selain Mengambil Pembiayaan Baru?
Tidak semua orang harus mengambil pembiayaan syariah baru. Dalam beberapa situasi, negosiasi ulang hutang lama bisa lebih aman.
Misalnya dengan meminta restrukturisasi, menghentikan bunga berjalan, atau melunasi sebagian pokok terlebih dahulu.
Ada juga pendekatan bertahap: menutup hutang paling berbunga tinggi dulu, sambil memperbaiki arus kas.
Alternatif ini sering lebih lambat, tapi risikonya lebih kecil dibanding mengambil kewajiban baru.
Pinjaman syariah untuk melunasi hutang riba bisa menjadi jalan keluar, tapi bukan solusi otomatis untuk semua orang.Ia dibenarkan jika akadnya jelas, tujuannya untuk keluar dari riba, dan kemampuan bayar Anda realistis. Namun, jika hanya memindahkan beban tanpa memperbaiki kondisi, masalah akan muncul kembali.
Pada titik ini, yang paling penting bukan seberapa cepat hutang lama tertutup, tapi apakah langkah yang Anda ambil benar-benar membuat kondisi keuangan dan ketenangan batin membaik.
Post a Comment for "Pinjaman Syariah untuk Melunasi Hutang Riba, Apakah Ini Solusi yang Dibenarkan?"